Akuntansi Syariah vs Akuntansi Konvensional

Kendatipun secara de facto kita sudah melihat entitas bisnis syariah telah berdiri dan telah menggunakan akuntansi syariah, masih ada anggapan bahwa tidak ada akuntansi Syariah Islam itu. Mereka menilai kalaupun ada, sama saja dengan akuntansi konvensional atau akuntansi kapitalis yang kita kenaL Kalaupun berbeda, hanya dalam tingkat istilah ataupun dalam hal penekanan pada etikanya. Oleh karena itu, kita tidak perlu repot cukup mengisi akuntansi kapitalis itu dengan nilai-nilai Islam. Apakah demikian?

Iwan Triyuwono (2001) telah membuktikan bahwa akuntansi kon­vensional itu tidak benar netral seperti yang diklaim orang banyak dan pendapat di atas tadi. Beliau membuktikan dan menekankan bahwa akuntansi kapitalis memiliki nilai-nilai yang inheren di dalamnya sesuai dengan nilai dari pencetus, desainer, dan asal ideologinya. Akuntansi kapitalis adalah sistem atau instrumen yang diredusir atau diperas dari sistem ekonomi kapitalis, sistem sosial, dan ideologi kapitalis. Sebagaimana diketahui ideologi kapitalis ini adalah ideologi sekuler yang tidak mengenal Tuhan, tidak memercayai yang ghaib, tidak memercayai agenda pertanggungjawaban di akhirat. Kebenaran yang dianutnya didasarkan pada kebenaran ilmiah yang hanya mengandalkan rasionalisme, empirisme, dan pengalaman yang tertangkap oleh lima indera yang kemampuannya sangat terbatas. Sistem ekonominya didesain untuk memberikan kesejahteraan material kepada masyarakat melalui tangan-tangan kapitalis. Sang kapitalis bekerja demi keuntungan atau pertumbuhan harta kekayaan material, diberi hak liberal, menggunakan mekanisme pasar dan hasilnya dapat kita lihat bahwa akibatnya adalah berbagai kezaliman, kerusakan, dan dehumanisasi, berkurangnya kasih sayang antarmakhluk dan antara manusia, konflik semakin merajalela.

Akuntansi tentu berperan di dalam menciptakan situasi ini karena akuntansi itu membantu kapitalis (via bisnis) melaksanakan fungsinya mcncari dan mengakumulasi kekayaan dengan cara memberikan informasi untuk pengambilan keputusan sehingga semua proses bisnis dilakukan

secara efektif dan efisien. Sadar atau tidak sadar akuntansi berperan mem­bantu semakin jauhnya manusia dari Tuhan, Seorang manajer kapitalis akan senyum melihat indikator keuangan yang menguntungkan dan sebaliknya akan marah jika informasi akuntansi menunjukkan kinerja keuangan yang buruk. Informasi akuntansi memengaruhi perilaku pembacanya. Ini membuktikan bahwa akuntansi itu membawa nilai-nilai kapitalis yang tentu bisa berbeda dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, sudah dapat dipas­tikan jika nilainya berbeda, akuntansinya juga akan berbeda. Islam dengan nilai-nilai luhurnya yang mengakui adanya Tuhan, ada pertanggungjawaban dunia akhirat, dan ada nilai-nilai yang dimiliki dan diajarkannya, maka tentu prinsip, sistem dan desain akuntansinya tidak akan sama dengan prinsip, sistem, dan desain akuntansi Islam.

Memang bukan berarti semuanya berbeda atau semuanya sama. Ada yang berbeda dan ada yang sama. Jika kita bagi suatu budaya itu dalam tiga level, akuntansi Islam dan akuntansi kapitalis juga bisa dicluster dan dilihat perbedaannya dalam tiga level itu.

No Level Perbedaan
1 Filosofi, prinsip, worldview Besar
2 Sistem, Konsep Sedang
3 Teknik Sedikit

Memang dalam level teknik bisa saja tidak berbeda misalnya teknik pencatatan, klasifikasi, metode pengungkapan, dan sebagainya, tetapi tiba pada konsep dan bentuk laporan keuangan: neraca, laba rugi, dan dasar filsafatnya Maka, akan muncul perbedaan yang sangat menonjol dan signi­fikan, mengenai kajian yang dalam tentang Akuntansi Islam, silahkan dibaca literatur Akuntansi Islam yang sudah banyak ditemukan di Tanah Air.

Akuntansi Perbankan Syariah

Bank Islam pertama lahir pada tahun 1992 dengan nama BankMuamalat Indonesia sejak tahun buku 1992, sebagai seorang yang bertanggung jawab waktu itu selaku controller BMI saya menyampaikan bahwa saat itu BMI terpaksa memakai PSAK No. 31 Standar Akuntansi Perbankan dan tentu di sana sini dilakukan perubahan, tetapi pada saat itu hanya terbatas pada istilah-istilah. Misalnya istilah pendapatan bank yang dalam bank konvensional berasal dari bunga, tetapi BMI waktu itu berasal dari margin, bagi hasil, dan pendapatan lainnya. Jenis, Format, dan isi laporan keuangan tetap menggunakan konsep kapitalis. Alhamdulillah pada tahun 2002 keluar PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah. PSAK ini lebih maju dari PSAK No. 31 terutama dalam kaitannya dengan mengungkapan transaksi perbankan syariah kendatipun masih tetap dalam wilayah dan sifat-sifat kapitalis. Ternyata PSAK 59 tidak mampu bertahan lama. Alhamdulillah pada tahun 2006 muncul exposure draft Akuntansi Entitas Syariah yang cakupannya lebih luas, yaitu:

  1. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah;
  2. PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah;
  3. PSAK 102 Akuntansi Murabahah;
  4. PSAK 103 Akuntansi Salam;
  5. PSAK 104 Akuntansi Istishna;
  6. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah;
  7. PSAK 106 Akuntansi Musyarakah;
  8. PSAK 107 Akuntansi Ijarah;
  9. PSAK 108 Akuntansi Penyelesaian Utang Piutang Murabaha Bermasalah;
  10. PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah
  11. PSAK 110 Akuntansi Hawalah
  12. PSAK Ill Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah

Dengan keluarnya pernyataan ini nantinya semakin meluas cakupan standar pedoman akuntansi ini karena PSAK 59 lupa bahwa transaksi yang terjadi di Bank Syariah misalnya tentu akan memengaruhi entitas lainnya baik karena transaksi itu maupun karena sifat dari transaksinya atau posnya. Misalnya dalam hal Bank Syariah memberikan pembiayaan mudharabah maka bagi penerima dana tidak bisa melaporkan ini sebagai utang, tetapi sesuai sifatnya ini adalah penyertaan, namun selama ini tidak diatur dalam PSAK. Diharapkan langkah menerbitkan PSAK yang baru di atas menjadi awal dari upaya kita untuk merumuskan PSAK lainnya yang semakin sesuai dengan ideologi Islam. Roger Willet dari Australia misalnya mengemukakan bahwa Laporan Nilai Tambah atau Value Added Reporting potensial menggantikan Laporan Laba Rugi karena Laporan Nilai Tambah itu lebih adil dan lebih sesuai dengan nilai dan konsep Islam. Ini baru salah satu temuan yang tentu bisa juga mencakup laporan neraca, laporan lain, pengukuran dan bentuk pengungkapan lainnya. Apa tujuan pengungkapan akuntansi Islam itu? Dalam kesempatan ini kami mengusulkan minimal ada tiga informasi penting yang harus disajikan oleh akuntansi Islam, yaitu.

  1. Kinerja keuangan;
  2. Kinerja Komitmen Sosial;
  3. Kinerja Syariah/Takwa

Selama ini akuntansi kapitalis telah mengujur poin 1, yaitu kinerja keuangan. Walaupun tren terakhir sudah terasa bahwa hal ini tidak cukup sehingga muncul kebutuhan ukuran kinerja komitmen sosial dan kinerja nonkeuangan seperti konsep Balance Score Card (BSC). Tentang komitmen sosial perusahaan sudah muncul dalam akuntansi kapitalis, kendatipun belum diwajibkan sebagaimana dikenal luas saat ini CSR atau corporate social responsibility. Di luar itu semua, kita butuh agar perusahaan juga adalah badan entitas yang menjadi “mukallaf” sebagaimana manusia harus bertanggung jawab untuk menegakkan, mengamalkan, dan mendakwahkan syariah. Bagi kita kinerja sebuah entitas bisnis tidak hanya terbatas pada kinerja keuangan, tetapi juga kinerja sosial, alam dan syariah. Sebagaimana yang dikenal sekarang dengan “Triple P” Profit, People, Planet, atau keuangan, sosial dan lingkungan. Tetapi untuk Islam plus syariahnya.

#Admin(Muh Amrih)

Referensi

Muzahid, Mukhlisul. 2008. Kerangka Konseptual  Akuntansi Konvensional  Dan Akuntansi Syariah.

Harahap, Sofyan Safri. 2011. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. Rajawali Press. Jakarta.

Suwardjono. 2013. “Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan”. Cetakan Ketiga BPFE: Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *