Seperti Apa Realitas Yang Mekanistik Itu?

*Suhartono

 Nominalism-realism (the ontological debate) Banyak sekali kontroversi mengenai kedua hal ini. Paham nominalis atau konvensionalis  memiliki  perspektif  bahwa  semua  yang ada di luar individu tidaklah real, hanya merupakan representasi nama dan simbol dimana sesuatu itu menjadi ada karena individu tersebut membuatnya ada. Jika setiap individu tidak memiliki representasi mengenai  sesuatu  yang  ada  diluarnya,  maka  sesuatu  itu  menjadi tidak  ada.  Berbeda  dengan  apa  yang  dipikirkan  oleh  kaum  realis bahwa setiap yang ada diluar individu adalah sesuatu yang nyata dan tidak bergantung pada persepsi atau cara pandang individu terhadap hal itu. Kaum realis percaya bahwa semua yang ada dalam hidup ini adalah   nyata   walaupun   individu   memiliki   atau   tidak   memiliki representasi terhadap sesuatu tersebut.

Berangkat dari asumsi ontologis memperhatikan inti dari fenomena yang diamati. Para pakar ilmu sosial misalnya dihadapkan pada pertanyaan dasar ontologis: apakah realitas diteliti sebagai suatu yang berada di luar diri manusia yang merasuk ke dalam alam kesadaran seseorang; ataukah merupakan hasil dari kesadaran seseorang? Apakah realitas itu merupakan keadaan yang obyektif atau hasil dari pengetahuan seseorang (subyektif)? Apakah realitas itu memang sesuatu yang sudah ada (given) di luar pikiran seseorang atau hasil dari pikiran seseorang.

Nominalisme dan realisme adalah dua aliran dalam filsafat yang berbeda atau bertolak belakang. Dari berbagai literatur dicontohkan perbedaan tersebut menyangkut hakikat dari suatu masalah (fenomena) terutama realita sosial yang diselidiki antara lain apakah realitas itu merupakan sesuatu yang obyektif atau subyektif (hasil pemikiran seseorang)? Atau apakah realitas itu merupakan sesuatu yang sudah ada (given) berada diluar pikiran manusia atau dari pikiran manusia. Realisme beranggapan bahwa realita sosial sebagai sesuatu di luar diri seseorang, merupakan kenyataan yang berwujud, dapat diserap, dan merupakan tatanan nisbi yang tetap. Realitas itu ada, berwujud sebagai keutuhan yang dapat dialami (empirical entities). Mungkin kita saja yang belum menyadari dan belum memilih penamaan atau konsep untuk menjelaskannya. Kenyataan sosial ada terpisah (independen) dari pemahaman seseorang terhadapnya. Orang dilahirkan dan kenyataan sudah ada di luar dirinya, bukan berarti orang itu yang menciptakannya. Realitas ada mendahului keberadaan dan kesadaran seseorang terhadapnya.

Penganut nominalis beranggapan bahwa masalah sosial itu merupakan sesuatu dari hasil pemikiran seseorang (subyektif) sebagai contoh nama benda atau nama orang merupakan kreasi seseorang untuk mendiskripsikan sesuatu. Sebaliknya penganut realis menganggap bahwa realitas sosial itu merupakan sesuatu yang berada diluar pemikiran manusia (obyektif), merupakan kenyataan. Dari sudut pandang ontologis (melihat hakikat atas sesuatu) realitas sosial tersebut sudah ada sebelum keberadaan dan kesadaran manusia.

Filsafat disebut banyak orang sebagai induk ilmu. Pengertian filsafat digambarkan Suriasumantri seperti ”… seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi”.

Ontologi adalah kajian filsafat yang membahas tentang hakikat atas suatu realita. Ilmu dan metafisika ini digambarkan Suriasumantri ”… merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncurkan ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya”.

Tafsiran metafisika (paham mekanistik) ini digunakan manusia antara lain terhadap alam. Gejala alam seperti hujan, angin, petir, dan lain-lain bisa didekati dari segi proses kimia-fisika. Namun demikian permasalahan terjadi jika tafsiran metafisika diterapkan pada makhluk hidup seperti manusia. Dalam Suriasumantri disebutkan ”… Disini kaum yang menganut paham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik”. Lebih jauh dijelaskan, ”Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan proses tersebut diatas”.

Perbedaan pandangan kaum mekanistik (monoistik) dan vitalistik (dualistik) ini sudah menjadi kajian dari ahli-ahli filsafat sejak dulu.”Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana adanya. Kalau memang itu tujuannya maka kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah-masalah yang ada didalamnya”. Perbedaan pandangan ini juga secara jelas digambarkan oleh Suriasumantri ”…proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (obyek) yang ditelaahnya. Namun apakah kebenaran nya hakikat pikiran tersebut, apakah dia berbeda dengan zat yang ditelaahnya, ataukah hanya bentuk lain dari zat tersebut”.

Lebih lanjut disebutkan  Suriasumantri menyebutkan ”…yang membedakan robot dengan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata”.

Asumsi yang bersifat ontologis merupakan asumsi yang menyangkut hakikat fenomena yang diselidiki. Para ilmuwan sosial, misalnya, dihadapkan dengan pertanyaan ontologis dasar: apakah realitas diteliti sebagai suatu yang berada di luar diri manusia yang merasuk ke dalam alam kesadaran seseorang; ataukah merupakan hasil dari kesadaran seseorang? Apakah realitas itu merupakan keadaan yang obyektif atau hasil dari pengetahuan seseorang (subyektif)? Apakah realitas itu memang sesuatu yang sudah ada (given) di luar pikiran seseorang atau hasil dari pikiran seseorang.

istilah-istilah ini telah banyak menjadi subjek diskusi dalam literatur dan area-area kontroversi disekitarnya. Kaum normalis berada pada asumsi bahwa dunia sosial eksternal untuk kesadaran individu tidak lebih dari sebuah nama, konsep dan label yang digunakan untuk struktur realitas. Nominalist tidak pernah mengakui adanya stuktur apapun yang rill untuk menggambarkan konsep ini. Nama dianggap sebagai kreasi yang didasarkan pada kenyamanan mereka yang digunakan sebagai alat untuk menggambarkan, menciptakan rasa, dan melakukan negosiasi di dunia luar.

Realisme di sisi lain, berpatokan bahwa dunia sosial eksternal untuk kesadaran individual merupakan dunia nyata yang tercipta dari sesuatu yang keras, nyata, dan relative tidak berubah. Apakah kita menamai dan merasakan atau tidak struktur ataupun pertahanan para realis, mereka akan tetap ada sebagai entitas empiris. Bahkan mungkin kita tidak menyadari keberadaan struktur penting tertentu sehingga tidak memberikannya nama atau konsep untuk mengartikulasikan mereka. Bagi para Realis, dunia sosial ada secara independen dari apresiasi manusi terhadapnya. Individu dipandang sebagai seseorang yang dilahirkan dan hidup dalam dunia sosial yang memiliki realitas sendiri. Ini bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh invidu di luar sana. Secara ontologis, hal itu ada sebelum keberadaan dan kesadaran dari setiap manusia tunggal. Bagi realis, dunia sosial memiliki eksistensi yang sama keras dan konkritnya seperti alam.

Kaum mekanistik melihat gejala alam, termasuk makhluk hidup, hanya sebatas gejala fisika. Isaac Newton merumuskan system berpikir yang dipandang sebagai bentuk akhir filsafat mekanis. Masa tersebut dipandang sebagai mas aperalihan dari nilai-nilai yang lama ke nilai-nilai yang baru, dengan menggunakan sains modern sebagai perwujudannya. Realitas kehidupan manusia ditempatkan berdasarkan realitas yang otonom dengan hanya berdasarkan pada bukti-bukti empiris. Masyarakat akan selalu menetapkan fakta yang diakui eksistensinya oleh sain yang mekanistik. Pengalaman manusia diukur hanya dengan hitungan matematis tanpa mengikutsertakan unsur lain.

Realisme beranggapan bahwa realita sosial sebagai sesuatu di luar diri seseorang, merupakan kenyataan yang berwujud, dapat diserap, dan merupakan tatanan nisbi yang tetap. Realitas itu ada, berwujud sebagai keutuhan yang dapat dialami (empirical entities). Mungkin kita saja yang belum menyadari dan belum memilih penamaan atau konsep untuk menjelaskannya. Kenyataan sosial ada terpisah (independen) dari pemahaman seseorang terhadapnya. Orang dilahirkan dan kenyataan sudah ada di luar dirinya, bukan berarti orang itu yang menciptakannya. Realitas ada mendahului keberadaan dan kesadaran seseorang terhadapnya.

Definisi dan pemahaman tentang Realitas terus berkembang dari masa ke masa seiring bermunculnya pemikiran-pemikiran barat dan timur, antara lain Democritus, Sokrates, Plato, Aristoteles, hingga Rene Descartes (1596-1650), bapak filsafat modern, dianggap orang yang kali pertama membedakan antara jiwa dan tubuh atau res cogitans dan res extensa. Pandangan Descartes diikuti maupun dikukuhkan oleh Isaac Newton (1642-1727).

Referensi

Burrell, Gibson and Morgan Gareth. 1979. Sociological Paradigms and Organisational Analysis: Elements of the Sociology of Corporate Life. London: Heinemann..

Suriasumantri, Jujun S. 2009. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Nominalisme-Realisme dan Pandangan Dunia Mekanistik

ONTOLOGI I : NOMINALISME, REALISME DAN PANDANGAN DUNIA MEKANISTIK

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *