Seperti Apa Realitas yang Ekologis?

Levitra Generic Buy Cheapest

Refleksi mendalam atas posisi manusia sebagai subentitas dari keagungan alam semesta diharapkan akan mampu membangkitkan kesadaran kritis untuk kemudian menunda terlebih dahulu setiap klaim atas sentralitas posisi manusia sebagai penentu perkembangan alam semesta. Whitehead menyebut tahapan kesadaran manusia ketika mampu melampaui kekerdilan persepsinya atas semesta, dan kemudian mampu menemukan cara pandang yang utuh dengan seluruh realitas ekologisnya sebagai “diri ekologis”. Diri ekologis adalah “diri” yang mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan dan menciptakan keselarasan hubungan dengan satuan-satuan aktual lainnya.

Dalam pemikiran proses menurut Alfred North Whitehead, realitas dipahami sebagai suatu serikat atau komunitas wujud­-wujud aktual (actual entities) yang saling berinteraksi dan saling terkait satu sama lain. Pemikiran Proses yang menekankan model sosial atau ekologis dalam memahami realitas dapat me­numbuhkan sikap-sikap yang menunjang kesa­daran ekologis. Pemikiran ini, seperti menekankan kesalingtergantungan antara manusia dan alam dan bukan sikap eksploitatif yang mengobjekkan dan me­nguras alam.

Filsafat Whitehead dengan demikian menunjukkan pentingnya lingkungan hidup manusia dalam proses perkembangan mencapai “kepenuhan diri”. Penghancuran lingkungan hidup adalah penghancurkan kepenuhan diri sendiri. Dalam hal ini, manusia dan semua pengada lain dapat mencapai kepenuhan diri secara kualitatif hanya jika manusia mengikutsertakan seluruh lingkungan hidupnya terkait secara hakiki di dalam prosesnya. Pemikiran proses menumbuhkan sikap hormat terhadap alam.

Berkaitan dengan itu, pemikiran Henryk Skolimowski dalam Eco-philosophy juga hadir sebagai tanggapan terhadap pandangan dunia yang mekanistik. Eco-philosophy secara menyeluruh bersifat ekologis. Eco-philosophy melihat kemanusiaan sebagai bagian dalam suatu kesatuan integral dengan alam semesta dalam evolusi. Alam semesta merupakan tempat yang sakral dan kita adalah penjaga kesakralannya.

Tulisan ini mencoba untuk melihat perbandingan antara pemikiran proses Alfred North Whitehead dengan paham Eco-Philosophy dari Henryk Sklolimowski dari sudut pandang ekologi. Untuk itu, dalam tulisan ini pertama-tama akan dipaparkan bagaimana ‘Filsafat Proses A.N. Whitehead’, kemudian diikuti dengan uraian mengenai ‘Eco-Philosophy: The World is A Sanctuary’, dan terakhir ditutup dengan ‘Kesadaran Ekologis dalam Eco-Philosophy dan Filsafat Proses’ yang berisi rangkuman dan perbandingan dua pemikiran dari dua pemikir tersebut.

Realitas dipahami sebagai suatu serikat atau komunitas wujud­-wujud aktual (actual entities) yang saling berinteraksi dan saling terkait satu sama lain. Filsafat Whitehead dengan demikian menunjukkan pentingnya lingkungan hidup manusia dalam proses perkembangan mencapai “kepenuhan diri”. Penghancuran lingkungan hidup adalah penghancurkan kepenuhan diri sendiri. Dalam hal ini, manusia dan semua pengada lain dapat mencapai kepenuhan diri secara kualitatif hanya jika manusia mengikutsertakan seluruh lingkungan hidupnya terkait secara hakiki di dalam prosesnya. Pemikiran proses menumbuhkan sikap hormat terhadap alam.

Refleksi mendalam atas posisi manusia sebagai sub-entitas dari keagungan alam semesta diharapkan akan mampu membangkitkan kesadaran kritis untuk kemudian menunda terlebih dahulu setiap klaim atas sentralitas posisi manusia sebagai penentu perkembangan alam semesta. Whitehead menyebut tahapan kesadaran manusia ketika mampu melampaui kekerdilan persepsinya atas semesta, dan kemudian mampu menemukan cara pandang yang utuh dengan seluruh realitas ekologisnya sebagai “diri ekologis”. Diri ekologis adalah “diri” yang mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan dan menciptakan keselarasan hubungan dengan satuan-satuan aktual lainnya.

Pemikiran Proses menekankan model sosial atau ekologis dalam memahami realita dan dapat me­numbuhkan sikap-sikap yang menunjang kesa­daran ekologis. Alam dan manusia saling tergantung. Alam memiliki peranan penting bagi manusia dalam proses perkembangan mencapai “kepenuhan diri” (satisfaction). Penghancuran lingkungan hidup adalah penghancurkan kepenuhan diri sendiri. Dalam hal ini, manusia dan semua pengada lain dapat mencapai kepenuhan diri secara kualitatif hanya jika manusia mengikutsertakan seluruh lingkungan hidupnya terkait secara hakiki di dalam prosesnya.

Dengan begitu, Pemikiran Whitehead telah memberikan sumbangan besar dan warna lain dalam pemikiran filosofis atau semacam kunci untuk membuka gembok penjara filsafat Barat yang notabene berwatak materialistik-positivistik. Pemikiran proses menumbuhkan sikap hormat terhadap alam.

Sebagian besar biologi dan ilmu kedokteran kontemporer lekat dengan pandangan hidup yang mekanistik dan mencoba mereduksi kerja organisme hidup menjadi mekanisme-meka nisme sel dan molekul yang dapat didefinisikan dengan jelas. Sampai pada tingkat-tingkat tertentu pandangan mekanistik dapat dibenarkan karena organisme hidup memang, dalam beberapa hal, berperilaku seperti sebuah mesin. Organisme hidup telah mengembangkan sejumlah besar bagian dan mekanisme yang menyerupai mesin – tulang, aksi otot, peredaran darah, dan sebagainya barangkali karena kerja yang me­nyerupai mesin semacam itu sangat bermanfaat di dalam evolusi mereka. Namun, hal ini bukan berarti bahwa organisme hidup adalah sebuah mesin. Mekanisme-mekanisme biologis hanyalah kasus-kasus khusus dari prinsip-prinsip organisasi

yang jauh lebih luas; sebenarnya tidak ada kerja organisme apa pun yang sepenuhnya terdiri atas mekanisme-mekanisme semacam itu. Ilmu biomedis, yang mengikuti Descartes, telah memusatkan perhatiannya terlalu banyak pada sifat-sifat benda hidup yang menyerupai mesin dan telah mengabaikan hakikatnya yang organismik, atau sistemik. Meskipun pengetahuan tentang aspek-aspek sel dan molekul struktur biologis akan tetap penting, suatu pemahaman yang lebih lengkap tentang kehidupan hanya akan diperoleh dengan mengembangkan sua­tu “biologi sistem”, suatu biologi yang memandang suatu orga­nisme scbagai suatu sistem hidup dan bukannya sebagai sebuah mesin,

Pandangan sistem melihal dunia dalam pengertian hubungan dan integrasi. Sistem adalah keseluruhan yang terintegrasi yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi sifat-sifat unit yang lebih kecil. Pendekatan sistem tidak memusat­kan pada balok-balok bangunan dasar atau zat-zat dasar melainkan lebih menekankan pada prinsip-prinsip organisasi da­sar. Contoh-contoh sistem semacam ini terdapat di alam raya. Setiap organisme dari bakteri yang paling kecil, bermacam-macam tumbuh-tumbuhan dan binatang, hingga manusia merupakan suatu keseluruhan yang terintegrasi dan dengan demikian berarti sebuah sistem yang hidup. Sel-sel itu merupa­kan sistem yang hidup, dan begitu pula berbagai jaringan dan organ tubuh; otak manusia merupakan satu contoh sistem hi­dup yang paling kompleks. Namun, sistem itu tidak terbatas pada organisme individual dan bagian-bagiannya. Aspek-aspek keseluruhan yang sama juga ditunjukkan oleh sistem-sistem sosial semacam komunitas semut, sarang lebah, atau keluarga manusia dan juga ditunjukkan oleh ekosistem yang terdiri atas berbagai organisme dan benda mati dalam suatu interaksi timbal-balik. Yang dilestarikan di suatu wilayah belantara bukan lagi pohon-pohon atau organisme-organisme secara invidual melainkan jaring-jaring hubungan yang kompleks antara pepohonan dan organisme-organisme tersebut.

Perbedaan nyata yang pertama antara mesin dengan organisme adalah kenyataan bahwa mesin itu dibangun, sedangkan organisme itu tumbuh. Perbedaan fundamental ini berarti bahwa pemahaman tentang organisme harus berorientasi pada proses. Misalnya, menyajikan gambaran sebuah sel yang akurat dapat saja menggunakan lukisan yang statis, atau dengan kata lain, menggambarkan sel dalam pengertian bentuk-bentuk statis merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan. Namun demikian, sebenarnya sel-sel, seperti halnya semua sistem hidup harus dipahami dalam pengertian proses-proses yang mencerminkan organisasi yang dinamis dari sistem tersebut. Sementara aktivitas-aktivitas sebuah mesin ditentukan oleh stukturnya, hubungan tersebut justru berlawanan di dalam organisme dimana struktur organik ditentukan oleh berbagai proses.

Mesin itu berfungsi sesuai dengan rantai hubungan sebab-akibat yang linear, dan ketika mesin itu rusak, maka biasanya terdapat satu penyebab tunggal yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab kerusakan tersebut. Sebaliknya, kerja orga­nisme dituntun oleh pola-pola arus informasi yang berputar yang dikenal dengan putaran umpan-balik. Misalnya, komponen A mungkin mempengaruhi komponen B; komponen B mempengaruhi komponen C; dan pada gilirannya kompo­nen C “mengumpan-balik” pengaruh  pada A dan dengan demikian menutup putaran tersebut. Ketika sistem semacam itu rusak, kerusakan itu biasanya disebabkan oleh faktor-faktor ganda yang mungkin saling memperkuat satu sama lain melalui putaran umpan-balik yang saling tergantung. Faktor manakah yang merupakan penyebab pertama kerusakan tersebut seringkali menjadi tidak relevan.

Kesalinghubungan organisme hidup yang nonlinear ini rnenunjukkan bahwa usaha-usaha ilmu biomedis konvensional untuk mengaitkan penyakit dengan penyebab-penyebab tung­gal itu benar-benar problematis. Lebih-lebih hal tersebut rne­nunjukkan kekeliruan “determinisme genetik”, kepercayaan bahwa berbagai ciri fisik atau mental suatu organisme individu­al “dikendalikan” atau “ditentukan” oleh susunan genetiknya. Pandangan sistem menjelaskan bahwa gen-gen tidak menentukan kerja suatu organisme secara unik sebagaimana gir dan roda menentukan kerja sebuah arloji. Sebaliknya, gen merupakan bagian yang integral dari suatu keseluruhan yang terati dan oleh karena itu menyesuaikan dengan organisasi sistemil nya.

Referensi

Capra, Fritjof. 1997. Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

http://kampusbebeck.blogspot.com/2011/06/kesadaran-ekologis-dalam-eco-philosophy.html

Filsafat Organisme dan Kearifan Ekologis

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *