Seperti Apa Realitas Menurut Agama?

Colospa Generic Buy Cheapest

Tetapi filsafat hanya bergerak di tataran akal murni. Hasil penyelidikan dirumuskan dalam suatu pernyataan (proposisi). Bagaimana menilai benar tidaknya suatu pernyataan? Cukup dengan merujukkannya pada kaidah logika. Itu sebabnya logika sangat penting dalam filsafat. Logika adalah fondasi filsafat.

Sains tidak puas dengan ini. Dalam sains suatu pernyataan baru bisa dikatakan benar jika ia mengikuti kaidah logika dan merujuk pada bukti faktual. Bukti faktual ini harus bisa didapat dengan pengamatan (observasi). Sains dengan begitu bersifat empiris sementara filsafat spekulatif. Pernyataan filsafat analitik apriori; pernyataan sains sintetik a posteriori.

Cara yang ditetapkan oleh filsafat dan sains untuk menjelaskan realitas menghasilkan pagar pembatas mengenai pemaknaan realitas. Bagi sains realitas adalah segala sesuatu yang bisa diobservasi, bagi filsafat realitas adalah segala sesuatu yang bisa dipikirkan. Sains kemudian memfokuskan diri pada hal-hal yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Fisika misalnya, menyelidiki materi dan energi, karena kedua hal ini dapat diukur dan ditimbang.

Apakah realitas itu terbatas pada segala sesuatu yang terobservasi dan atau segala sesuatu yang terpikirkan? Agama menjawab: Tidak! Apa yang dimaknai realitas menurut sains dan filsafat hanyalah sebagian dari keseluruhan realitas. Realitas dalam pandangan agama mencakup segala sesuatu yang dibicarakan dalam sains dan filsafat plus segala sesuatu yang sama sekali tidak dapat bukan saja diobservasi tetapi bahkan akal sekalipun tidak dapat memahaminya.

Hal-hal kualitatif seperti cinta, kebaikan, kebahagiaan tidak bisa dibicarakan dan diselidiki dalam sains karena tidak ada factual evidences yang dapat diobservasi dari hal-hal semacam ini. Filsafat masih bisa memperbincangkannya. Lalu bagaimana dengan realitas yang sama sekali tidak tercerap akal? Agama mengajarkan penggunaan perangkat lain selain akal untuk dapat bersentuhan dengan realitas semacam ini. Agama menunjukkan qalbu. Dengan qalbu kita bisa mengimani segala sesuatu yang tidak bisa kita observasi dan pikirkan.

Kebenaran-kebenaran tertinggi dalam dunia filsafat Islam masih terdikotomikan dua alur besar: rasionalsime dan idealisme, dengan berbagai bentuknya yang hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Kebenaran- kebenaran tertinggi ini selalu diperdebatkan adalah kebenaran metafisik yang menyangkut masalah: mana yang lebih awal antara wujud dan eksistensi.

Sebab hakikatnya terasa sangat sulit untuk bisa dipahami. Hal ini lantaran wujud merupakan sesuatu yang tidak mungkin bisa didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu “objek”, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Dalam konteks wujud, ada objek yang lebih  bisa  dipahami  ketimbang  konsepsi  wujud.  Menurut  para  filosof, konsepsi   wujud   sedemikian   terangnya,   sehingga   ia   persis   menyerupai matahari.  Karena  sedemikian  terangnya,  ia  tidak  mungkin  bisa  dilihat manusia.

Demikianlah wujud, begitu jelasnya mafhum wujud, maka ia tidak mungkin  bisa  didefinisikan  lewat  genus  (jins)  dan  diferensia  (fasl),  yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang wujud itu sendiri. Secara konseptual,  kata  Sabzawari  (w.1289), mafhum  wujud  adalah  sesuatu  yang sangat jelas dan bahkan aksiomatis. Tetapi realitas wujud adalah sesuatu yang sangat sulit bisa dipahami.

Secara historis, tema wujud menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filosof klasik sejak Aristoteles. Karena itu kita akan dapati hampir seluruh buku-buku magnum opus filsafat, seperti as-Syifa karya Ibnu Sina, Hikmah al-Isyraq karya Suhrawardi; bahkan buku- buku kalam karya Khowajeh Nasiruddin Thusi menempatkan masalah itu sebagai tema pentingnya. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih “sekadar” menempatkan problematika wujud sebagai bagian dari tema- tema universalitas (kulliyyat) saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksiden, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.

Hinduisme tak bisa disebut filsafat, ataupun agama secara formal, la lebih merupakan organisme sosioreligiusyang besar dan rumit terdiri dari banyak sekali sekte, tradisi, dan sistem filosofis serta melibatkan berbagai ritual, upacara, dan disiplin spiritual, begitu juga pemujaan atas dewa dan dewi yang luar biasa banyaknya. Keragaman wajah dari tradisi spiritual yang rumit namun tetap bertahan dan kuat ini mencerminkan kompleksitas geografis, ras, bahasa, dan budaya dari Benua India yang luas. Berbagai manifestasi Hinduisme meliputi filsafat yang sangat intelektual melibatkan konsepsi dengan jangkauan dan kedalaman luar biasa, hingga praktik-praktik ritual massa yang naïf dan kekanak-kanakan. Jika mayoritas orang Hindu adalah penduduk desa sederhana yang menjaga agama populer ini tetap hidup dalam ritual pemujaan mereka sehari-hai Hinduisme di sisi lain melahirkan banyak guru spiritual luar biasa yang menyebarkan berbagai wawasan mendalamnya.

Tema dasar yang kerap dijumpai dalam mitologi Hindu adalal tentang penciptaan alam semesta melalui pengorbanan diriTuhan, ‘pengorbanan’ dalam makna aslinya berarti ‘menjadikan sakral’. Tuhan menjadi dunia dan akhirnya menjadi Tuhan kembali. Aktivitas: penciptaan ilahiah ini disebut lila, pertunjukan ilahiah, dan dunia dipandang sebagai panggung pertunjukan Ilahiah ini. Seperti kebanyakar mitologi Hindu, mitos lila bernuansa magis kuat .Brahman adalah penyihir agung yang mengubah dirinya menjadi dunia dan menampilkan pertunjukan ini dengan ‘kekuatan kreatif sihirnya’, yang merupakan makna asli istilah maya dalam Rig Weda. Istilah maya salah satu istilah terpenting dalam filsafat India telah berubah maknanya selama berabad-abad. Dari ‘kekuatan’, atau ‘kekuasaan’, sang penyihir agung, menjadi istilah untuk menandai kondisi psikologis setiap orang yang berada dalam pengaruh keterpesonaan akibat pertunjukan sihir itu. Selama kita menganggap kemajemukan bentuk lila sebagai realitas, tanpa memahami kesatuan Brahman yang melandasi semua bentuk itu, kita ada dalam pengaruh mantra sihir maya.

Jika nuansa Hinduisme adalah mitologis dan ritualistik, maka nuansa Buddhisme pastinya adalah psikologis. Buddha tak tertarik memenuhi rasa ingin tahu manusia tentang asal-mula dunia, hakikat Ilahi, atau pertanyaan lain semacam itu. la berminat secara eksklusif hanya pada situasi manusia, pada penderitaan dan frustrasi manusia. Ajarannya karena itu tak bersifat metafisis, namun psikoterapis. La menunjukkan asal-mula frustrasi manusia dan jalan mengatasinya, untuk keperluan ini ia mengambil konsep tradisional India tentang maya, karma, nirwana, dan lain-lain, dan memberinya interpretasi psikologis yang dinamis, menyegarkan, dan langsung relevan.

Setelah Buddha wafat, Buddhisme berkembang ke dalam dua tradisi, Hinayana dan Mahayana. Meskipun memiliki taraf intelektual tinggi dengan berbagai filsafat ini namun Buddhisme Mahayana tak pernah kehilangan dirinya dalam pemikiran abstrak spekulatif. Sebagaimana biasa dalam mistisisme Timur, akal dipandang hanya sebagai alat untuk melapangkan jalan menuju pengalaman mistis secara langsung, yang disebut orang Buddhis sebagai ‘kebangkitan’. Esensi pengalaman ini adalah melampaui dunia distingsi dan oposisi intelektual untuk mencapai dunia acintya, yang tak terpikirkan, ketika realitas tampil sebagai ‘kesedemikianan’ yang tak terbagi dan tak terdiferensiasi.

Selama abad ke-6 S.M., kedua sisi filsafat Cina ini berkembang ke dalam dua tradisi filsafat yang berbeda, Confusianisme dan Taoisme. Confusianisme adalah filsafat tentang organisasi sosial, tentang pikiran dan pengetahuan praktis. Filsafat ini memberi masyarakat Cina sebuah sistem pendidikan dan kaidah-kaidah etika sosial yang ketat. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk membentuk sebuah dasar etika bagi sistem keluarga Cina tradisional dengan strukturnya yang rumit dan ritual-ritual pemujaan nenek moyangnya. Taoisme, di sisi lain, terutama terkait dengan pengamatan alam dan penemuan Jalan, atau Tao, darinya. Kebahagiaan manusia, menurut orang Taois, didapat ketika orang mengikuti tatanan alamiah, bertindak secara spontan dan mempercayai pengetahuan intuitif mereka.

Pasangan yin dan yang adalah motif utama yang meiesap ke dalam budaya Cina dan menentukan seluruh ciri khas dari jalan hidup Cina tradisional. “Hidup,” kata Chuang Tzu, “adalah perpaduan yang selaras dari yin dan yang.”” Sebagai bangsa petani, orang Cina sudah akr^b dengan pergerakan-pergerakan matahari dan bulan dan dengan per­ubahan musim. Perubahan musim dan fenomena pertumbuhan dan kerusakan yang dihasilkannya di alam organik karena itu dipandang mereka-sebagai ekspresi paling jelas dari saling memengaruhi antara yin dan yang, antara musim salju yang dingin dan gelap serta musim kemarau yang terang dan panas. Saling memengaruhi musiman antara kedua kutub ini juga tercermin dalam makanan yang kita makan yang mengandung unsur yin dan yang. Makanan yang sehat terdiri dari, bagi orang Cina, penyeimbangan unsur yin dan yang.

Dari dua kecenderungan utama pemikiran Cina, Confusianisme dan Taoisme; yang terakhir Taoisme adalah pemikiran yang berorientasi mistis, sehingga lebih relevan untuk perbandingan dengan fisika modern. Seperti Hinduisme dan Buddhishie, lebih menaruh perhatian pada kebijakan intuitif, ketimbang rasiornal berbagai keterbatasan dan relativitas dunia pemikiran rasional. Taoisme pada prinsipnya, merupakan jalan pembebasan dari dunia ini dan dalam hal ini, dapat dibandingkan dengan jalan Yoga atau Vedanta dalam Hinduisme, atau Delapan Jalan Buddha. Dalam konteks kebudayaan Cina; pembebasan laois berarti, secara khusus, pembebasan dari aturan- aturan konvensional yang ketat.

Referensi

Capra, Fritjof. 1975. “The Tao of Physics”. New York: Bantam Books

Armahedi Mazhar. 2000. “Mencari Kesatuan dalam Kemajemukan Realitas” dalam Fazlur Rahman, Filsafat Shadra. Bandung: Pustaka.

http://suarakritingfree.blogspot.com/2012/10/realitas-dalam-filsafat-sains-dan-agama.html

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *