Phenomenology

*Suhartono

Istilah Fenomenologi

Husserl (1913) argued that phenomenology did not deny the existence of the real world, but sought instead to clarify the sense of this world (which everyone accepts) as actually existing. Husserl berpendapat bahwa fenomenologi tidak menyangkal keberadaan dunia nyata, tetapi berusaha bukan untuk memperjelas memahami dunia ini (yang semua orang menerima) sebagai sesuatu yang benar-benar ada.

McPhail (1995) Phenomenology is a philosophical movement that approaches study of human beings and their culture differently from the logical positivist model used in the natural sciences and in special education. phenomenologist view the applications of the logical positivist model to the study of human beings as inappropriate because the model does not address the uniqueness of human life. Fenomenologi adalah sebuah gerakan filosofis dengan pendekatan studi tentang manusia dan budaya mereka yang berbeda dengan model positivis logis yang digunakan dalam ilmu alam dan pendidikan khusus. fenomenolog melihat aplikasi dari model positivis logis untuk mempelajari manusia  tidak patut karena modelnya tidak membahas keunikan kehidupan manusia.

Zahavi (1999) Phenomenology is characterized by a form of essentialism. It is not interested in a merely empirical or factual account of different phenomena, but seeks on the contrary to disclose the invariant structures of, for example, the stream of consciousness, embodiment, perception, etc. On the other hand, however, the point of departure for its investigation of the world and human existence remains factual existence. Phenomenology is not simply a form of essentialism, it is also a philosophy of facticity. Fenomenologi ditandai dengan bentuk esensialisme. Hal ini tidak hanya ditarik dalam akun empiris atau faktual dari fenomena yang berbeda, tetapi berusaha sebaliknya untuk mengungkapkan struktur invarian, misalnya, arus kesadaran, perwujudan, persepsi, dll. Di sisi lain, bagaimanapun, intinya keberangkatan untuk pemeriksaan atas dunia dan eksistensi manusia tetap eksistensi faktual. Fenomenologi bukan hanya bentuk esensialisme, juga merupakan filosofi faktisi.

Moran (2002) Phenomenology is best understood as a radical, anti-traditional style of philosophising, which emphasises the attempt to get to the truth of matters, to describe phenomena, in the broadest sense as whatever appears in the manner in which it appears, that is as it manifests itself to consciousness, to the experiencer. Moran (2002) Fenomenologi paling baik dipahami sebagai radikal, gaya anti-tradisional philosophising, yang menekankan upaya untuk mendapatkan kebenaran dari berbagai hal, untuk menggambarkan fenomena, dalam arti yang luas sebagai apa pun muncul dengan cara munculnya, yaitu sebagai manifestasi dirinya ke kesadaran, bagi mereka yang mempunyai pengalaman pengalaman.

Metode Fenomenologi

Husserl mengatakan bahwa kita perlu mengurangi kesadaran alam murni, sehingga apa yang kita dibiarkan adalah kerangka murni yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan pola pikir dan metodologi fenomenologi.

Prosedur bracketing sangat penting: pengurangan fenomenologis membantu kita untuk membebaskan diri dari prasangka dan mengamankan kemurnian detasemen sebagai pengamat, sehingga kita dapat menemukan “sesuatu sebagaimana adanya dalam diri mereka” secara independen dari segala pengandaian. Tujuan dari fenomenologi Husserl adalah deskriptif di kemudian, analisis terpisah dari kesadaran di mana objek, sebagai berkorelasinya dibentuk.

Husserl mengistilahkan bracketing atau pemutusan pertama kali dari ilmu alam dan kemudian berlanjut pada daftar hal-hal yang harus kita masukkan ke dalam tanda kurung: Tidak hanya ini, cara Husserl mensetting kita untuk memahamkan pola pikir kita sendiri berkaitan dengan kerasnya pengurangan fenomenal, tapi ia mengatakan bahwa ini memang metode yang dapat digunakan untuk penyelidikan kesadaran murni – apakah itu adalah obyek, mimpi atau memori; dan bahwa ada hubungan penting antara objek nyata dan pengalaman persepsi. Dia menyebutnya Noesis dan Noema.

Noesis dan Noema: hubungan ketergantungan antara objek nyata dan intinya (pengalaman persepsi). Noesis: isi yang sebenarnya, karakter yang nyata, bagian dari tindakan yang memberikan karakter ke benda. Noema: esensi ideal karakter; yang Noema penuh adalah struktur yang kompleks terdiri dari setidaknya rasa noematic (arti ideal) dan inti noematic (yang objek yang artinya merujuk).

Pengamatan HusserI mengenai struktur intensionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yang inheren dalam kesadaran, yaitu (1) objektifikasi, (2) identifikasi, (3) korelasi, dan (4) konstitusi (Abidin, 2000).

Intensionalitas objektifikasi berarti mengarahkan data (yang merupakan bagian integral dari aliran kesadaran), kepada objek-objek intensional. Fungsi intensionalitas adalah menghubungkan data yang sudah terdapat dalam aliran kesadaran.

Intensionalitas sebagai identifikasi, yakni suatu intensi yang mengarahkan berbagai data dan peristiwa kemudian pada objek hasil objektifikasi. Identifikasi banyak dipengaruhi oleh berbagai aspek dari dalam, seperti motivasi, minat, keterlibatan emosional, maupun intektual.

Intensionalitas korelasi menghubung-hubungkan setiap aspek dari objek yang identik menunjuk pada aspek-aspek lain yang menjadi horisonnya. Bagian depan sebuah objek menunjuk pada bagian samping, muka, bawah, dan belakang. Aspek yang menjadi horison dari objek memberi pengharapan pada subjek untuk mengalaminya kembali di kemudian hari. Aspek atau bagian-bagian tersebut selalu dibayangi oleh objek identik yang sudah tampak lebih awal.

Intensionalitas konstitusi melihat bahwa aktivitas-aktivitas intensional berfungsi mengkonstitusikan objek-objek intensional. Objek intensional tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah ada, melainkan diciptakan oleh aktivitas-aktivitas intensional itu sendiri. Objek intensional’ sebenarnya berasal dari endapan-endapan aktivitas intensional.

 Asumsi Fenomenologi

Asumsi dasar dari fenomenologi adalah bahwa manusia dalam berilmu pengetahuan tidak lepas dari pandangan moralnya, baik pada taraf mengamati, menghimpun data, menganalisis, ataupun dalam membuat kesimpulan. Sutrisno dan Hanafi (2004) dalam Riharjo menjelaskan apabila ditinjau dari prinsip dasar yang dikembangkan dalam paradigma interpretif, prinsip dasar dalam membaca fenomena, adalah:

  1. Individu menyikapi  sesuatu  atau  apa  saja  yang  ada  dilingkungannya  berdasarkan makna sesuatu tersebut pada dirinya;
  2. Makna tersebut diberikan berdasarkan interaksi sosial yang dijalin dengan individu lain; dan
  3. Makna tersebut dipahami dan dimodifikasi oleh individu melalui proses interpretif yang berkaitan dengan hal-hal lain yang dijumpainya.

Terdapat dua varian tentang fenomenologi, yaitu: (1) fenomenologi hermenuetik dan (2) fenomenologi eksistensial (Berger, 1987) dalam Sukidin. Fenome­nologi hermeneutik terfokus pada aspek kolektif dari budaya yang concern dengan bahasa. Teks dapat dianalisis secara objektif, dalam arti mengeksplo­rasi dan menentukan kealamiahan serta struktur komunikasi.

Fenomenologi eksistensial, berorientasi pada level individu dari budaya yang meliputi internalisasi kesadaran subjektif dari individu. Setiap fenomenologi dapat dideskripsikan sebagai sesuatu yang empirik dan terkait dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Berger, pendekatan fenomenologi akan terhenti ketika mulai memasuki area ilmu. Analisis fenomenologi merupakan metode deskriptif dan bersifat empiris. Menurut Berger, ilmu empirik harus beroperasi dengan asumsi kausalitas yang universal. Namun, Berger juga mengakui bahwa feno­menologi mampu mengikuti tradisi ilmu sosial untuk menembus dunia kehi­dupan sehari-hari dan mendeskripsikan secara sistematis.

Ada dua pendekatan dalam penelitian fenomenologi yaitu: fenomenologi hermeneutik dan  empiris,  fenomenologi  transendetal  atau  psikologi  Van  Manen. Pandangan Hermeneutik berkaitan dengan menginteprestasikan dan memahami hasil pemikiran manusia yang memberikan ciri pada dunia sosial dan kultural. Dilthey menyatakan  bahwa  salah  satu  hal  utama  dalam  suatu  metode  pemahaman  untuk pandangan  ini  adalah  penelitian  tentang  tampilan  kehidupan  empiris-institusi,  situasi masa lampau, bahasa lainnya yang mencerminkan kehidupan inti dari penciptanya. Penelitian tentang penciptaan sosial ini dilihat sebagai hal utama untuk memahami dunia dari pikiran obyektif.

Analisis Data dalam Penelitian Fenomenologi

Data dari fenomena sosial yang diteliti dapat dikumpulkan dengan berbagai cara,  diantaranya  observasi  dan  interview,  baik  interview  mendalam  (in-depth interview). In depth dalam penelitian fenomenologi  bermakna mencari sesuatu yang mendalam untuk mendapatkan satu pemahaman yang mendetail tentang fenomena sisoal dan pendidikan yang diteliti. In-depth juga bermakna    menuju pada sesuatu yang    mendalam guna mendapatkan sense dari yang nampaknya   straight-forward secara aktual  secara potensial lebih complicated.  Pada  sisi lain peneliti juga  harus memformulasikan kebenaran peristiwa/ kejadian dengan pewawancaraan mendalam. ataupun interview. Data yang diperoleh dengan in-depth interview dapat dianalisis proses analisis data dengan Interpretative Phenomenological Analysis sebagaiman ditulis oleh Smith (2009) dalam Hajaroh. Tahap-tahap Interpretative   Phenomenological Analysis yang dilaksanakan sebagai berikut: 1) Reading and re-reading; 2) Initial noting;  3)  Developing  Emergent Emergent  themes;  4)  Searching  for  connections  across emergent themes; 5) Moving the next cases; and   6) Looking for patterns across cases. Masing-masing tahap analisis diuraikan sebagai berikut:

  1. Reading and Re-reading

Dengan  membaca  dan  membaca  kembali  peneliti  menenggelamkan  diri dalam data yang original.  Bentuk kegiatan tahap ini adalah  menuliskan transkrip interviu dari rekaman  audio  ke dalam transkrip dalam bentuk tulisan.  Rekaman audio yang digunakan oleh peneliti dipandang lebih membantu pendengaran peneliti dari pada transkrip dalam bentuk tulisan.  Imaginasi  kata-kata dari partisipan ketika dibaca dan dibaca kembali oleh  peneliti dari transkrip akan membantu analisis yang lebih komplit. Tahap ini di laksanakan untuk memberikan keyakinan bahwa partisipan penelitian benar-benar  menjadi  fokus analisis.

  1. Initial Noting

Analisis tahap awal ini sangat mendetail  dan mungkin menghabiskan waktu. Tahap ini menguji isi/konten dari kata, kalimat dan bahasa yang digunakan partisipan dalam level eksploratori. Analisis ini menjaga kelangsungan pemikiran yang terbuka (open mind) dan mencatat segala sesuatu yang menarik dalam transkrip. Proses ini menumbuhkan dan membuat sikap yang lebih familier terhadap  transkrip data.   Selain itu tahap ini juga memulai mengidentifikasi secara spesifik cara-cara      partisipan   mengatakan   tentang   sesuatu,   memahami dan    memikirkan    mengenai  isu-isu.

  1. Developing Emergent Themes

Dengan komentar eksploratori tersebut maka pada seperangkat data muncul atau tumbuh secara substansial. Untuk memunculkan tema-tema peneliti memenej   perubahan data dengan menganalisis secara simultan, berusaha mengurangi volume  yang detail dari data yang berupa transkrip   dan catatan awal yang masih ruwet   (complexity) untuk di mapping kesalinghubungannya (interrelationship),  hubungan  (connection) dan pola-pola antar catatan eksploratori. Pada tahap ini analisis terutama pada catatatan awal lebih yang dari sekedar transkrip. Komentar eksploratori yang dilakukan secara komprehensip sangat mendekatkan pada simpulan dari transktip yang asli.

  1. Searching for connection a cross emergent themes

Mencari hubungan antar tema-tema yang muncul dilakukan setelah   peneliti menetapkan seperangkat tema-tema dalam transkrip dan tema-tema telah diurutkan secara  kronologis.  Hubungan  antar  tema-tema  ini  dikembangkan  dalam  bentuk grafik atau mapping/pemetaan dan memikirkan tema-tema yang bersesuaian satu sama lain.

  1. Moving the next cases

Tahap  analisis 1- 4  dilakukan pada setiap satu  kasus/partisipan. Jika satu kasus selesai dan dituliskan hasil analisisnya maka tahap selanjutnya berpindah pada kasus  atau partisipan berikutnya hingga selesai semua kasus.  Langkah ini dilakukan pada semua transkrip partisipan, dengan cara mengulang proses yang sama.

  1. Looking for patterns across cases

Tahap akhir merupakan tahap keenam dalam analisis ini adalah mencari pola- pola  yang  muncul  antar  kasus/partisipan.  Apakah  hubungan  yang  terjadi  antar kasus, dan bagaimana tema-tema yang ditemukan dalam kasus-kasus yang lain memandu peneliti melakukan penggambaran   dan pelabelan kembali pada tema- tema. Pada tahap ini dibuat master table dari tema-tema untuk satu kasus atau kelompok kasus dalam sebuah institusi/ organisasi.

Referensi

Hajaroh, Mami. Paradigma, Pendekatan dan Metode Penelitian Fenomenologi. Paper: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Husserl, Edmund. 1962. Ideas : General Introduction to Pure Phenomenology, Translated by W. R. Boyce Gibson. London, New York: Collier,Macmillan.

Manen, Max van. 2007. Phenomenology of Practice. Journal of Phenomenology & Practice, Volume 1 , No. 1, pp. 11 – 30: University of Alberta.

McPhail, Jean C. 1995. Phenomenology As Philosophy and Method:Applications to Ways of Doing Special Education. Journal of Remedial and Special Education Vol. 13: Michigan University.

Moran, Dermot. 2002. Introduction To Phenomenology. London and New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Riharjo, Ikhsan Budi. 2011. Memahami Paradigma Penelitian Non-Positivisme dan Implikasinya dalam Penelitian Akuntansi. Jurnal Akuntansi, Manajemen Bisnis, dan Sektor Publik (JAMBSP).

Sukidin, Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendekia.

Zahavi, Dan. 1999. Self-awareness and Alterity: A Phenomenological Investigation. Evanston, IL: Northwestern University Press.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *