Bagaimana dengan Epistemologi dari Perspektif Agama?

* Muh Amrih

 Epistemologi sebenarnya berawal dari paradigma agama. Kekuasaan agama sangat dominan dalam menetapkan fenomena ilmiah yang ada. Supremasi agama dijunjung tinggi dan doktrinnya tidak boleh dielakkan. Ajaran-ajaran agama dahulu di tradisi barat menjadi penentu kebenaran. Tetapi seiring perkembangannya, pemisahan antara ajaran agama dengan ilmu pengetahuan terjadi. Sebagai hasil, beberapa ilmuwan yang mampu menemukan kebenaran secara empiris namun tidak sesuai dengan doktrin agama telah dihukum berat hingga meninggal. Satu peristiwa yang telah pernah terjadi, Galileo yang dihukum gantung. Epistemologinya membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari bukan sebaliknya. Para ilmuwan yang melakukan bantahan terhadap agama terus berlangsung dan akhirnya terjadi pemisahan kekuasaan agama dengan kekuasaan negara. Gereja dibatasi kekuasannya mengenai urusan masalah agama dan selebihnya menjadi kekuasaan negara. Dengan pemisahan tersebut, kekuasaan negara berada diatas kekuasaan gereja. Dengan demikian, negara dapat melakukan inovasi-inovasi terhadap penyelenggaran negara termasuk mengenai pengembangan pemikiran tentang alam dan manusia.

Sebagai hasil, agar peristiwa tidak ingin terulang kembali seperti keadaan sebelumnya yang mengutamakan ajaran agama dalam pengembangan keilmuan. Epistemologi dari tradisi barat akhirnya lebih membebaskan diri dari pemikiran keagamaan atau berada pada paham sekuler. Dengan demikian, keabsahan ilmu pengetahuan berdasarkan pada korespondensi, koherensi dan pragmatisme. Korespondensi memberikan kesesuaian di antara ide dengan kenyataan alam semesta, kebenarannya bersifat empiris-induktif, koherensi mensyaratkan kesesuaian di antara berbagai pernyataan logis, kebenarannya bersifat rasional formal-deduktif. Sedangkan pragmatisme mensyaratkan adanya kriteria instrumental atau kemashalatan, kebenarannya bersifat fungsional.

Terlepas dari epistemologi berdasarkan pada tradisi barat ataupun tradisi timur yang membebaskan kepercayaan agama, kedua tradisi tersebut sesungguhnya mengakui kekuasaan lebih tinggi bermula dari agama, sumbernya adalah Tuhan. Berikut dikaji secara literatur bagaimana epistemologi dari perspektif agama yang kenyataannya telah dulu ada hingga pengaruhnya masih tetap diyakini secara bijak.

Semua ajaran agama tidak seluruhnya dapat dianalisis dan ditelaah berdasarkan fakta lapangan dan bukti-bukti empiris. Agama tidak seluruhnya dapat dikaji secara ilmiah oleh karena ajaran agama didasarkan pada wahyu dari Tuhan, bukan berdasarkan hasil penyelidikan keilmuan melalui metode deduktif dan induktif (Qomar, 2005). Lebih lanjut, konsep-konsep agama seringkali bersifat doktriner, tanpa pengujian terlebih dahulu dan tidak dapat diuji. Demi mencapai kebenaran ilmu pengetahuan yang terandalkan, para ilmuan terkadang telah beranggapan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan harus dibersihkan dari pengaruh konsep-konsep normatif agama. Karena epistemologinya hanya berusaha mengkaji dan menemukan ciri-ciri umum dan hakiki pengetahuan yang  mengkaji pengandaian dan syarat logis berdasar pada pengetahuan (Tafsir, 2003). Padahal tidak demikian. Perspektif agama yang menghasilkan kitab sebagai pedoman hidup menciptakan konsep kebenaran ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan tiga prinsip yakni korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tetapi juga didapatkan melalui akal rasional, dan empiris inderawi (observasi). Ini niscaya didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk wahyu melalui kitab suci. A. Yusuf Ali dalam Qomar (2005) menyiratkan sumber ilmu pengetahuan menurut epistemologi Islam menjadi tiga yakni wahyu, rasio, dan indera. Hal yang sama, Solehudin (2012) menjelaskan bahwa agama yang bersumber dari Islam melalui Al-Quran, mengisyaratkan melalui beberapa tahapan. Pertama, ilmu pengetahuan diperoleh manusia melalui tanggapan indrawi (al-hissi) atau dapat juga dikatakan melalui pengalaman empirik (al tajribah). Kedua, melalui metode bayani (analisis kebahasaan). Ketiga, melalui analisis pemikiran yang logis dan rasional (nazariyah dan aqliyah) atau dengan istilah yang populer metode burhani. Keempat, melalui intuisi dan kontemplasi atau ma’rifat al-qalb setelah melewati proses riyadh dan mijjadah sehingga terjadi mukashafah, atau yang lebih dikenal dengan metode ‘irfani. Dan kelima, melalui wahyu dan kesaksian langsung (shahadah) orang-orang yang terpercaya atas diturunkannya wahyu kepada nabi/rasul Tuhan, atau dikenal metode al-mathu.

Nasution (1996) mengungkapkan bahwa manusia mempunyai akal, yaitu daya pikir yang berpusat di pikiran kepala dan daya rasa yang berpusat di kalbu. Daya pikir dipertajam melalui intelektual dan daya rasa dipertajam melalui ibadah. Semua agama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan berpusat pada Pencipta, maka cara ini dapat mempertajam daya rasa. Lebih lanjut, manusia terdiri dari unsur materi, yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur non-materi yang mempunyai dua daya yaitu daya rasa di dada dan daya pikir di kepala. Daya rasa jika diasah dengan baik, mempertajam hati nurani dan daya pikir jika dilatih akan mempertajam penalaran. Iqbal dalam Danusiri (1996) menyatakan bahwa manusia sebagai kesatuan jiwa dan badan mampu menangkap seluruh realitas, materi dan non materi, karena di dalam diri manusia terdapat tiga potensi epistemologis, yaitu: serapan panca indra, kekuatan akal dan intuisi. Aspek lahir (external) realitas dapat ditangkap oleh panca indra; aspek batinnya (internal) dapat ditangkap oleh akal; dan tingkatannya yang paling tinggi dapat ditangkap oleh intuisi. Mengenai indra, kemampuannya terletak pada daya penangkapan benda benda material. Ilmu yang diperoleh indera disebut ilmu inderawi atau ilmu empiris.

Pengalaman empirik ini diperoleh melalui penelitian yang realitasnya selalu berulang-ulang atau berputar dan merupakan akibat dari realitas. Di samping panca indera, akal juga merupakan alat untuk memperoleh ilmu, yang hasilnya agama akan tidak ada artinya manakala akal pikiran dikurung untuk tidak berpikir secara kritis dalam memahami dan melaksanakan agama secara wajar (Solihin, 1996). Ini dapat dipahami, sebab akal mempunyai potensi yang luar biasa. Gerak pikiran dalam tempo yang singkat bisa berpindah perhatiannya dari tak terbatass ke yang terbatas. Berdasarkan potensi akal ini, maka muncul metode ‘aqliyah yang merupakan cara penggalian hukum Islam dengan menggunakan penalaran rasional (akal). Iqbal (Danusiri, 1996) mendefinisikan hati sebagai sejenis intuisi batin atau wawasan dan mengenalkan kita kepada masalah-masalah kenyataan selain dari yang terbuka bagi cerapan penginderaan. Sedangkan fungsi dari intuisi ini adalah memberikan informasi mengenai hal-hal yang tidak dapat ditangkap indera.

Dalam perspektif agama tanpa memperhatikan jenis agama secara parsial apakah Islam, Kristen, Budha, Hindu, atau sebagainya, epistemology sebenarnya dipandang secara menyeluruh. Semua potensi yang ada dalam diri manusia yang terdiri dari panca indera, daya pikir, dan  intuisi digunakan secara integral dalam berepistemologi. Panca indera mampu dipertajam dengan daya pikir dan intuisi menyelaraskan keduanya.

Dalam agama islam. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa epistemology adalah bagaimana mengetahui pengetahuan. Islam menganjurkan bahkan mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim dan muslimat. Dalam hadisnya yang lain Nabi Muhammad mengatakan bahwa menuntut ilmu itu dari ayunan sampai liang kubur. Dari perkataan Nabi Muhammad tadi dapat dipahami bahwa menuntut ilmu sangat penting bagi manusia. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang yakin dan berilmu,” Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS,Al-Maidah:11).  Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa menuntut ilmu penting bagi manusia, karena dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah Swt dan di sisi manusia.

Islam memandang ilmu bukan terbatas pada eksperimental, tetapi lebih dari itu ilmu dalam pandangan Islam mengacu kepada aspek sebagai berikut pertama, metafisika yang dibawa oleh wahyu yang mengungkap realitas yang Agung, menjawab pertanyaan abadi, yaitu dari mana, kemana dan bagimana. Dengan menjawab pertanyaan tersebut manusia akan mengetahui landasan berpijak dan memahami akan Tuhannya. Kedua, aspek humaniora dan studi studi yang berkaitannya yang meliputi pembahasan mengenai kehidupan manusia, hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, ekonomi dan lain sebagainya. Ketiga aspek material, yang termasuk dalam aspek ini adalah alam raya, ilmu yang dibangun berdasarkan observasi, eksperimen, seperti dengan uji coba di laboratorium (M.Zainuddin, 2006:53).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya menggunakan rasionalitas, empirisme saja dalam menemukan kebenaran, tetapi Islam menghargai dan menggunakan wahyu dan intuisi, ilham dalam mencari kebenaran. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal (QS.Al Maidah:31).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan ilmu yang benar dapat muncul dari contoh-contoh dan fenomena alam yang sengaja Allah ciptakan agar manusia memperhatikan dan mengambil pelajaran. Bahkan, dalam Al-Quran dinyatakan bahwa akal saja tidak akan mampu mengambil kebenaran dari ayat-ayat Allah, untuk mencari kebenaran menurut Al-quran tidak dapat mengandalkan akal sebagi satu-satunya jalan untuk memperoleh kebenaran. Al-Quran menyatakan semua tanda-tanda /ayat-ayat Allah tidak ada gunanya keculai bagi mereka yang beriman. Dalam ayat lain Allah memberi dorongan kepada manusia untuk menggunakan inderanya agar mendapatkan pengetahuan dan kebenaran. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan (QS.An Nur:43).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip epistemology menurut islam adalah didasarkan kepada kejian metafisika, sumbernya kepada wahyu, akal sehat, panca indra dan intuisi, pendekatannya bersifat tawhidy, objeknya fisik dan sekaligus metafisik, ilmu sarat dengan nilai (value full), validitas kebenaran konteks (data & fakta) diselaraskan dengan teks (wahyu), berorientasi dunia dan akhirat.

 

 

Referensi

Danusiri. 1996. Epistemologi dalam Tasawuf Iqbal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasution, Harun. 1996. Islam Rasional, Bandung: Mizan.

Solehudin, Ending. 2012. Filsafat Ilmu Menurut Al-Quran. Islamica, Vol. 6, No.2.

Solihin, Mochtar. “Epistemologi Ilmu Menurut al-Ghazali” dalam Jurnal Mimbar Studi: Nomor 3 Tahun XXII, Mei-Agustus 1999.

Qomar, Mujamil. 2005. Epistemologi Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Tafsir, Ahmad. 2003 Filsafat Umum: Akal dan Hati dari Thales sampai Capra. Jakarta: Rosda.

http://adnanjamaljusticeforall.blogspot.com/2011/10/ilmu-sebagai-metode-mendapatkan

http://tonybestthinker.blogspot.com/2014/03/epistemologi-islam-barat.html

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *